Skip to main content

Dari Aku Untuk Kamu, With Love


Bismillahirrahmanirrahim

Untuk kamu yang tersayang, terima kasih sudah meninggalkan kenangan perkenalan yang teramat berkesan. Obrolan kita yang mengasyikkan dan pembawaan kamu yang menyenangkan, sungguh gak pernah aku sangka, bahwa yang belum dikenal dekat, justru bisa terasa begitu hangat. 

Apakabar, Mbak? Aku dari Bogor menyapa. Mungkin jarak membentang dan kita tak mampu saling bertatap memang bagian dari cerita kita, tapi aku yakin langit tempatmu berpijak adalah langit sama yang aku amati hari ini, langit sama di bumi yang kita pijaki detik ini. Aku ingin menyemangatimu, menyemangati penjelajahan kita yang terjal berliku, yang penuh kejutan. Aku ingin hadir untuk membuatmu paham bahwa persahabatan bisa dimulai dari perkenalan sederhana, seperti kita di hutan belantara Kupu Cekatan ini. Nanti, Mbak, nanti, kita sama-sama bermetamorfosis menjadi kupu yang cantik jelita. Nanti, Mbak, nanti, semua tentang kita menjadi cerita perjalanan, dikenang sepanjang usia. Nanti, Mbak, nanti di bumi yang tak seberapa luas ini, kita pasti bisa bertatap insyaaAllah 💜

Memberimu hadiah membuatku berdebar sejujurnya. Kusiapkan hati-hati, semoga kamu suka. Tidak seberapa, tidak seistimewa itu, tapi semoga kamu merasakan ketulusan. Ada hatiku di sana, bersama hadiah yang kamu terima.

With Love, 
Yang bisa merasakan ketulusanmu lewat obrolan kita yang berkesan, Arri 💜

Comments

Popular posts from this blog

Hari Guru dalam Kisahku

Facebook mengingatkan momen ini,  five years ago  (terima kasih Mr. Mark untuk fitur nostalgia yang satu ini). Aku ingat, menghabiskan  in total  delapan tahun waktu mengajar. Awalnya, mengajar anak-anak Madrasah Ibtidaiyah sejak aku semester tiga hingga lulus kuliah. Sampai aku menjadi kesayangan dosen teaching karenanya. Di semester lima, ketika teman-teman sekelas grogi bukan main saat praktik PPL 1 yang mengharuskan kita mengajar di depan kelas, aku malah mengajar dengan rileksnya seolah mengajar murid-murid MI-ku. Lulus kuliah, aku mengajar di dua sekolah berbeda. Di MA, selama dua tahun dan di SMK lima tahun lamanya. Tepat Juni 2018, aku gantung seragam atas permintaan suamiku. Sebelum pandemi, aku masih memberi les untuk anak-anak di rumah,  for free . Orang tua memberi infaq seadanya untuk keperluan membeli buku bacaan anak-anak dalam dua bahasa. Aku happy, karena mengetahui dengan jelas, itu semua adalah passion- ku. Bahkan, yang paling kuingat, waktu duduk di bangku SMA kelas

Banana Boat dan Tekad yang Kuat

Ketinggalan perahu dan sambil tersengal-sengal mengejar ketinggalan tidak membuatku menyerah dan lelah. Kesempatan kedua memasuki hutan kupu-kupu yang telah lama kunanti menjadi trigger untuk bergegas. Aku hanya punya beberapa hari mengejar ketinggalan. Semangaat.  Peran yang ingin kumainkan adalah menjadi mahasiswa Bunda Cekatan Batch 2 IIP. Aku juga ingin menjadi member di regional baru yang cepat beradaptasi, pintar membaur dan cepat membangun keakraban, seperti aku yang biasanya.  Sebenarnya, belajar dan berkomunitas itu adalah aktivitas yang membuatku berbinar. Makanya, sedih sekali dengan fakta ketinggalan kelas belajar di trancity dan hampir membuatku tidak menjadi bagian dari buncek batch 2. Aku ingin tetap berbinar dan bahagia menjalankan apa yang aku sukai. Dengan demikian, aku akan menjadi yang lebih bertanggung jawab atas pilihan sadar yang aku pilih. Agar kemudian tantangan ke depan tidak mengendurkan semangatku. Agar kemudian aku akan terus mengingat alasan ke